*edisi curhatan* Gadis Solehahku (sekarang hanya menjadi impian)
Dua minggu lalu aku telah kehilangan seseorang yang sangat berharga dalam hidupku. Seseorang yang selama kami menjalani hubungan tak pernah mengeluh atas sifatku yang kekanakan, egoisme, pencemburu, mengekangnya karna kami menjalani hubungan jarak jauh. Bagaimana tidak saat kami mengakhiri hubungan tersebut rasanya separuh hidupku telah hilang. Aku sadar akan hal itu. Sebelumnya kami saling menyayangi dan dia percaya padaku untuk senantiasa setia padanya, itu dulu sebelum bapaknya bertindak tegas mencari dan mendapatkan penggantiku di mata dan hati anaknya. kami mengakhiri hubungan dengan adanya orang ketiga yang dipercaya bapaknya jauh lebih baik dariku, lebih bisa membahagiakannya dan sangat mampu mengimaminya kelak. Kecewa bahkan hancur hari-hariku saat itu menerima kenyataan pahit tersebut. Apa dayaku ? aku coba tegar, sok tenang, sok dewasa seperti tidak pernah terjadi apa-apa ketika komunikasi terakhir kami itu. Sepuluh hari sudah mereka menjalani ta'aruf untuk saling menge...